Minggu, 05 Januari 2014

INI IBUKU, MANA IBUMU?

0 komentar
Perkenalkan, ibuku adalah wonder woman. Wanita kuat yang diciptakan oleh Allah dengan kekuatan yang melebihi saras 808. Dan ibuku adalah wanita yang lembut melebihi kelembutan ibu Peri. Bagaimana tidak, sebelum adzan shubuh berkumandang ibu sudah bangun untuk beberes rumah dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Nyuci piring, nyuci baju, nyapu, ngepel, dan nyiapin sarapan ibu lakukan sebelum kami anak-anaknya bangun. Saat kami anak-anaknya mulai berangkat sekolah,ibu pun berangkat ke sekolah tempat ibu mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Setelah pulang mengajar, ibu melanjutkan kembali pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Berbagai pekerjaan rumah tangga ibu sikat habis. Pokoknya ada saja yang ibu kerjakan. Aku sampai heran, sepertinya ibu itu gak ada capeknya. Kekuatan fisik ibuku juga terbukti dari beliau yang masih rajin ke sawah saat hari libur. Pekerjaan di sawah, yang pernah aku ikutan membantu dan badan langsung pegal-pegal selama seminggu, sering ibu lakukan saat beliau libur mengajar.

Selain kuat fisik, ibuku juga seorang wanita dengan hati yang sangat kuat. Beliau sangat sabar menghadapi aku dan kedua adikku yang manjanya minta ampun. Ibu jarang memarahiku kecuali aku melakukan kesalahan yang keterlaluan. Beliau juga jarang menyuruh-nyuruh aku dan adik-adikku melakukan pekerjaan rumah tangga. Dia menunggu kesadaran kami saja. Ibuku juga sangat sabar memiliki ayahku yang memiliki banyak sekali kekurangan. Ibu selalu setia mendampingi ayahku saat ayah sedang mencapai puncak kejayaan maupun saat ayah sedang dalam kondisi yang sangat terpuruk. Ibuku orangnya sangat sangat sangat sabar, beliau menunggu diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil selama 17 tahun. It means ibu menjadi guru honorer dengan honor yang tidak sampai 500 ribu selama 17 tahun. Di saat tenaga honorer yang lain sudah berpindah profesi, ibuku tetap sabar menjadi guru honorer sampai akhirnya beliau diangkat, Alhamdulillah.

Alhamdulillah, aku mempunyai seorang ibu yang memiliki pengetahuan agama yang memadai. Ibu adalah tempat aku bertanya tentang larangan dan perintah agama yang aku belum paham. Ibu juga teman aku diskusi tentang pengetahuan agama yang baru aku ketahui. Benarkah hal itu memang begitu dan hal ini memang begini. Ibu (dan Ayah) adalah orang tua yang memiliki kesadaran bahwa ilmu agamanya belum semumpuni ustadz dan ustadzah, sehingga ibu dan bapak memasukkan aku ke madrasah untuk belajar membaca Alquran dengan baik dan benar. Mereka selalu mendorong, mendukung, dan membantu aku sampai aku berhasil mengkhatamkan ngaji aku. Selain mengajarkan mengaji, ibu juga alarm bagi aku dan adik-adikku jika kami sudah mulai jauh dari agama. Beruntungnya aku diciptakan menjadi anak dari keluarga yang memiliki lingkungan hidup yang berpegang pada agama.

Ibuku juga merupakan ibu yang selalu mengajarkan kesederhanaan dalam hidup. Beliau selalu mencontohkan hidup yang bersahaja. Ibu mengajarkan untuk tidak menghabiskan uang yang didapat dalam sekali tebas. Masih ada hari esok yang kita belum tahu bagaimana kondisi dan keadaannya sehingga kita harus menabung. Terima kasih ibu atas semua pelajaran yang telah dan terus engkau berikan kepada kami anak-anakmu.

Ibuku juga bukan ibu yang egois. Ibu selalu mendahulukan anak-anaknya daripada kepentingan dia sendiri. Sebagai contoh, saat makan, beliau pasti lebih mendahulukan kami untuk makan terlebih dahulu makanan dan lauk yang ada kemudian ibu makan sisanya. Contoh lain adalah saat lebaran, baju dan sandal baru yang terpenting adalah buat anak-anaknya terlebih dahulu, untuk beliau tidak baru juga tidak apa yang penting anak-anak senang. Saat ibu ada acara makan-makan di sekolahnya, beliau juga selalu mengingat kami dan membawakan kami pulang makanan itu. Aku pikir semua ibu memang akan selalu mengingat anaknya bagaimanapun keadaan mereka, dan sampai kapanpun.

bersama ibu saat idul fitri bulan agustus 2013 kemarin


Selamat hari Ibu Ibu! Semoga ibu selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, kelancaran rezeki, dan ibu selalu dalam lindungan Allah swt. Aamiin!


Selamat hari ibu juga untuk seluruh ibu di seluruh Indonesia! Kalian wanita hebat. Tetaplah hebat karena dunia membutuhkan kalian.



Semoga bisa menjadi inspirasi bagi saya, pengunjung blog saya, dan pembaca perempuan.com, penyuka page perempuan.com serta follower perempuan.com.

Cinta Ibu Tiada Batas

0 komentar
Ibu, sebuah kata yang apabila diucapkan dan didengar akan langsung mengirimkan ingatanku pada seorang manusia yang mampu membuat mata ini menitikkan air mata. Air mata kesedihan karena tidak bisa mendampingi beliau (dan Bapak) melewati pertambahan usianya. Kesedihan karena tidak bisa mendapat pelukan ibu saat penat dan kesedihan melanda. Kesedihan karena tidak bisa memakan masakan ibu setiap kali lapar menyerang. Kesedihan karena tidak bisa tidur seranjang dengan ibu setiap hari. Namun, air mata itu juga air mata kebahagiaan karena saya berhasil sampai di sini karena didikan, dukungan, dan doa dari ibu.

Bagi saya, dan saya yakin untuk semua pembaca juga, ibu adalah orang pertama yang kita cari saat kita sakit. Ibu adalah orang yang kita panggil-panggil saat raga sedang dilanda kesakitan. Ibu juga orang pertama yang kita beri kabar saat kebahagiaan dan keberuntungan sedang menjumpai kita. Walaupun beliau tidak selalu memberikan solusi atas masalah yang selalu kita tumpahkan, tetapi suara ibu dari gagang handphone itu mampu meredakan kemarahanku, mampu membuat saya bangkit dan semangat lagi. Begitu pun jika saya memiliki kesempatan untuk pulang kampung dan melihat raut mukanya yang semakin menua serta mendengar suaranya yang tidak selantang dulu, semangatku terisi kembali dan berjanji untuk menjadi lebih baik dari saya yang sebelumnya.

Ibu, wanita ayu yang dengan kesabaran dan kelembutannya mendidik dan menyayangi kita. Mulai dari kita dalam kandungan, kita bayi, balita, anak-anak, remaja, bahkan sampai kita dewasa.

Ibu, seorang wanita yang tidak pernah hentinya kita repoti. Mulai dari kita masih berada dalam perut beliau sampai sekarang kita beranjak dewasa.

Kita membuat dia susah tidur dengan perutnya yang membuncit. Kita membuat dia berat jalannya karena harus membawa turut serta kita kemanapun dia pergi dan beraktivitas. Kita membuat ibu tidak bisa makan sembarang makanan untuk membuat kita sehat dan normal saat dilahirkan ke dunia. Kesusahan itu belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan ibu saat melahirkan kita. Mulai dari kontraksi yang sakitnya berlipat lipat dibandingkan sakit perut kita saat menstruasi. Bagaimana susahnya beliau mengatur nafas dan mengejan untuk bisa mengeluarkan kita dengan selamat. Ditambah pula dengan risiko kekurangan darah karena darah yang beliau keluarkan saat persalinan bayi kita. Allahuakbar, hebatnya seorang ibu. Sujud kami padamu ibu.

Kerepotan berikutnya yang kita buat adalah kerepotan menjaga balita kita yang tidak pernah mau diam dan selalu mengobrak-abrik isi rumah. Kita yang masih anak-anak dan masa sekolah juga merupakan masa kenakalan kita yang membuat ibu repot setengah mati. Masa remaja kita merupakan masa krusial dimana kita mempunyai teman-teman baru yang berbeda latar belakang. Dan di situlah seorang ibu kembali diuji untuk bisa mengontrol kita anak-anaknya agar tidak salah bergaul dan tidak mengalami kesalahan perkembangan. Saat dewasa pun, saat dimana (menurut saya) masalah yang dialami seseorang semakin banyak dan kompleks, kita masih sering merepotkan ibu. Kita pasti akan mengeluhkan semua masalah yang kita alami kepada beliau, meminta beliau untuk turut serta memecahkan masalah yang sedang kita alami.

Ya, sampai kapanpun ibu akan selalu kita repotkan. Dan sampai kapanpun juga, ibu akan dengan ikhlas dan senang hati direpotkan oleh kita. Betapa kasih ibu sepanjang masa.

Ibu, dari mulut beliaulah doa-doa tentang kita selalu dilantunkan, tanpa kita minta. Doa agar kita menjadi hamba yang berbakti pada Tuhannya, doa agar kita menjadi anak yang sukses dan tidak melupakan orang tuanya, doa agar anaknya yang suka mengeluh ini selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan, serta doa-doa lainnya yang kita tidak bisa mengetahuinya. Doa yang ikhlas dari seorang ibu mampu menggetarkan langit, begitulah kata ustadzah. Maka dari itu, mintalah didoakan oleh ibu kita teman-teman. Dan berbuat baiklah serta muliakanlah selalu Ibu kita.


 kebersamaan dengan ibu saat idul fitri dua tahun yang lalu

                                   bangganya saat bisa berfoto bersama ibu saat wisuda

Ibu, saya tidak bisa membalas semua kebaikanmu Bu, biarlah Allah yang membalasmu dengan jannah-Nya. Dan hanya doa yang selalu bisa aku persembahkan untukmu Bu, doa agar engkau senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan dunia dan akhirat kelak. Teman, sudahkah kita selalu mendoakan ibu kita di setiap sholat dan ibadah kita seperti ibu kita yang selalu mendoakan kita?


Terima kasih ibu atas kesabaranmu menghadapi anakmu yang suka mengeluh ini. Terima kasih ibu atas kasih sayangmu yang telah engkau curahkan kepada anakmu yang suka nakal ini. Kasih sayang ibu yang tiada batas, semenjak saya masih berada dalam perut ibu sampai sekarang saya berumur 23 tahun.
Bersyukurlah kita yang masih mempunyai ibu yang masih hidup, ibu yang masih dapat kita mintai doa, ibu yang bisa kita cium tangan dan pipinya sebelum berangkat sekolah atau kerja, ibu yang selalu memberikan pelukan hangat.

Semoga kelak saya bisa menjadi ibu sepertimu Bu, ibu yang ayu, tangguh, sabar, kuat, sayang keluarga, dan disayangi keluarga.

Aku sayang padamu Bu. Dan aku ingin membuatmu selalu bahagia.


Dan saya pun mengakhiri tulisan ini dengan tetesan air mata (lagi).


Semoga bisa menjadi inspirasi bagi saya, pengunjung blog saya, pembaca perempuan.com, facebook-er penyuka page perempuan.com serta follower perempuan.com.
 
Copyright © celoteh bocah ndeso